ACEH
UTARA, Aceh News - Idris Amin (57) warga desa Mantang
Seuke Pulot, dan Abdurahman (60) warga Matang Serdang, keduanya adalah
masyarakat kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Mereka adalah warga yang
terimbas perang jahanam beberapa tahun silam itu, tapi hingga kini belum
tersentuh bantuan dalam bentuk apapun dari siapapun.
inilah kisah yang diceritakan Idris Amin yang menimpa
dirinya: pada tahun 1990 ia menjadi salah satu korban penganiayaan, dia pernah
dikontak listrik hingga kepalanya terjadi ganggguan. Dia pernah berobat demi
kesembuhannya, tapi usahanya itu tidak berbuah hasil. Hingga dia
tidak mampu berobat lagi karena biaya yang tidak memungkinkan.Walaupun sesekali
dia menjerit kasakitan karena dari imbas pemukulan itu dia biarkan berlalu
saja. ”Karena saya tidak mampu berobat lagi.”
Namun pada tahun 2001 ia juga sering kali
mendapatkan pemukulan, tapi pemukulan kali ini tidak separah pada
tahun 90-an itu. Hingga usai konflik, dia yang berfrofesi petani tidak bisa
lagi bekerja seperti biasanya. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan empat anak
dan seorang istri ia juga harus bertani, walau dia sakit-sakitan.
Beberapa kali ia pernah mecoba membuat permohonan
bantuan kepada pemerintah terkait, untuk mendapatkan biaya berobat. Tapi tak
berbuah hasil, dan kini dia hanya pasrah saja, dengan sakit yang menggelinting
tubuhnya itu.
Hal serupa juga terjadi pada Abdurrahman. Ayah
tujuh orang anak ini juga mendapatkan perilaku yang sama, yaitu terjadi
pemukulan kepada dirinya pada pertengahan tahun 2003, ia dipukul ketika
sekolompok orang menanyakan dimana keberdaan anaknya. Sebab anaknya itu adalah
‘pasukan Gerakan Aceh Merdeka.’ Tapi ia tidak bisa menunjukan keberadaan
anaknya itu, karena tidak tahu, kemana rimbanya waktu itu. Tetapi sekawanan
orang yang memakai seragam militer itu tidak mendengarkan , hingga dia dipukuli
dan mengeluarkan darah lewat mulut.
Akibat dari pemukulan Sembilan tahun silam itu,
hingga kini masih ditanggungnya. dan pernah beberapa kali ia membuat
permohonan bantuan untuk biaya pengobatan, sayang, peromohonan itu tak tau lagi
kemana rimbanya dan tak ada bantuan yang mengalir kepadanya. Inilah sepenggal
kisah yang dicerita Munawar (25) anak ke tiga dari Abdurrahman yang menimpa
ayahnya.” Saya berharap pemerintah mau memberikan bantuan untuk biaya berobat.”
Lanjut Munawar, ayahnya selaku petani tidak lagi
mampu untuk bekerja keras, kalau bekerja keras sesekali sakit di dadanya itu
yang membuatnya terjerit kesakitan. “kalau ayah berobat, sekali berobat itu Rp.
100 ribu. Jadi dari mana uang sebanyak itu setiap kali berobat, hingga akhirnya
ayah tidak berobat lagi,”jelasnya.
Ketua LSM Acheh Future Razali Yusuf yang dihubungi
media ini, ia memita pemerintah Aceh dan pemerintah pusat untuk menggaudit dana
yang sudah disalurkan kepada BRA, karena, menurutnya, dana tersebut masih
banyak yang harus diperjelas, sebab ribuan korban konflik yang sudah melaporkan
kepadanya belum mendapatkan bantuan.
“kita meminta kepada pemerintah, rakyat yang terkena
imbas dari konflik agar disalurkan bantuan. Karena itu memang jatah
mereka,”ungkapnya Senin (13/02/2012). (Jamal)


