PIDIE, Aceh News - Suasana kota Meureudu
Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh terlihat ramai setiap hari, terlebih pada
hari pekan (“Uroe
Peukan” dalam bahasa aceh)
satu hari dimana masyarakat luas turun dari gampong-gampong untuk melakukan
tranksaksi jual-beli, pada hari itu berbagai macam kebutuhan warga terpenuhi,
baik sandang juga pangan termasuk perhiasan (emas) juga tersedia, mungkin
sampai plik U’e (patarana) juga dijual disana.
Seperti terlihat kota Meureudu pada hari
biasa sedikit lengang, kendati demikian aktivitas warga atau masyarakat tidak
surut dalam berbelanja atau mendagangkan usahanya, hal ini sudah lumrah bagi
warga disana, kecuali itu panen durian atau rambutan biasanya, buah berduri itu
dipasok dari luar meureudu, misalnya, dari Meulaboh Aceh Barat, Mila Pidie,
namun dari daerah sendiri Paru Pidie Jaya juga dipasarkan dipusat Kota Meureudu
itu.sejak Pemerintah kabupaten Pidie Jaya berada di Kota Meureudu dan sejumlah
perkantoran lainnya, barangkali geliat perdagangan kota ini persentasenya
meningkat, selain toko grosir, toko emas, warkop, caffe, Bank dan sejumlah
usaha perdagangan masyarakat.
Aktivitas masyarakat untuk belanja
sangat dipengaruhi kebutuhan yang didapat oleh sipembeli terjangkau, hal ini
juga sangat berdampak pada kebijakan pemerintah daerah sendiri, sebab ada issu
yang beredar jika kelak Pusat Pemerintahan Pidie Jaya “eksodus” ke markasnya di
kawasan Cot Trieng, lantas bagaimana fenomena dan laju pertumbuhan ekonomi di
kota Meureudu itu sendiri, pertanyaan itu tanpa ditanya mungkin bagi seorang
Bupati Gade Salam memberikan gambaran, bahwa pertumbuhan kota Meureudu tetap
menjadi prioritas, malah beberapa waktu lalu Bupati Gade Salam berkomitmen agar
seluruh SKPK jajaran “Kabinet Gade Salam” tetap bermarkas di kota Meureudu,
tujuannya agar daya beli semisal, satu telor atau segelas kopi dimana uangnya
berputar di Pidie Jaya.
Artinya perputaran uang tidak keluar ke
daerah lain, opini Bupati Gade Salam tersebut sah-sah saja, namun bagaimana
jika ditinjau dari sudut pembangunan ekonomi, serta kepentingan publik, semisal
SKPK tadi, sebab selama ini sejumlah SKPK dan pejabat Pidie Jaya berdomisili di
luar Pidie Jaya, terbanyak dari Sigli Kabupaten Pidie. Jika pendapat di atas
sangat brilian lantas bagaimana tanggapan dan kebijakan lanjut dari komitmen
pemerintah itu tadi, namun sejauhmana pula
warning itu diaplikasikan oleh sang pejabat.
Pun demikian trik Gade Salam itu patut dianjung jempol
barangkali target sudah ada, bupati selain cerdas tergolong pemberani ini
menjadikan lawan politiknya berpikir dua kali untuk memprotes semisal”
kebijakan”, namun Gade Salam bukan figur kepemimpinan yang kaku, namun saran
infut dari seluruh elemen masyarakat ditampung dan dijadikan konsumsi untuk
dibahas dan kemudian tentunya setiap
pemerintah memiliki program dan target yang dicapai.
Kota Meureudu yang terbilang kota Tua di
Aceh dengan sejarahnya yang sangat menakjubkan, perlunya penataan lebih dini,
terarah dan terukur, sehingga dampak global dan pengaruh budaya apapun yang
tidak diharapkan masyarakat nota bene masih dibawah garis kemiskinan itu,
sangat layak untuk menjadi perhatian sepenuhnya, terutama Pemerintah Provinsi
dan Pemerintah Pusat dengan selalu menjadikan Meureudu Pidie Jaya yang baru
usia muda ini untuk diperhatikan dan didukung, sehingga keterbatasan sarana dan
prasarana teratasi dan tentu disesuaikan dengan ketentuan dan mekanisme.
Pembangunan jalan layang terletak di
Kawasan Cot Tring, merupakan jalan akses
menuju Pusat Pemerintahan, paruh pelaksanaannya sempat mendapat kecaman dari
unsur politisi setempat, Wakil Ketua DPRK Setempat, Ramli, SH saat
mendapat info ini, menapik keras itu
tidak mungkin, ia heran dengan sikap oknum dewan seperti itu, sebab yang kita
bangun untuk kemaslahatan ummat, ujarnya. Padahal menurut Kadis Pekerjaan
Umum,(PU) Ir.Hanif Ibrahim ME ,proses pembangunan jalan layang tersebut, sudah
sesuai mekanisme termasuk proses tender, sebab proyek tergolong multiyer yang
dikerjakan sejak 2010 dan sesuai kontrak kerja bakal siap pada
2012.Proyek Jalan Layang itu dilaksanakan oleh rekanan yang memiliki
kontribusi dan pengalaman setingkat Nasional, jikapun dilaksanakan kontraktor
lokal mungkin domisilinya di Aceh, sedangkan pengalamannya tentu sudah mapan
membidangi konstruksi pembangunan semisal jalan layang tersebut .
Investigasi dan liputan media ini, kedalam elemen masyarakat luas
dalam delapan kecamatan yang mendiami 222 Gampong itu, mengaburkan pendapat-pendapat
kontra, pasalnya nyaris 97 persen rakyat Pidie Jaya menyukai pembangunan Pidie
Jaya secara Komprehensif. (Hasballah Basyah)


