Headlines News :
Home » , » Kota Meureudu Perlu Dibenahi dan Ditata

Kota Meureudu Perlu Dibenahi dan Ditata

Written By ichsan on Jumat, 03 Februari 2012 | 21.56


PIDIE, Aceh News - Suasana kota Meureudu Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh terlihat ramai setiap hari, terlebih pada hari pekan (Uroe Peukan” dalam bahasa aceh) satu hari dimana masyarakat luas turun dari gampong-gampong untuk melakukan tranksaksi jual-beli, pada hari itu berbagai macam kebutuhan warga terpenuhi, baik sandang juga pangan termasuk perhiasan (emas) juga tersedia, mungkin sampai plik U’e (patarana)  juga dijual disana.

Seperti terlihat kota Meureudu pada hari biasa sedikit lengang, kendati demikian aktivitas warga atau masyarakat tidak surut dalam berbelanja atau mendagangkan usahanya, hal ini sudah lumrah bagi warga disana, kecuali itu panen durian atau rambutan biasanya, buah berduri itu dipasok dari luar meureudu, misalnya, dari Meulaboh Aceh Barat, Mila Pidie, namun dari daerah sendiri Paru Pidie Jaya juga dipasarkan dipusat Kota Meureudu itu.sejak Pemerintah kabupaten Pidie Jaya berada di Kota Meureudu dan sejumlah perkantoran lainnya, barangkali geliat perdagangan kota ini persentasenya meningkat, selain toko grosir, toko emas, warkop, caffe, Bank dan sejumlah usaha perdagangan masyarakat.

Aktivitas masyarakat untuk belanja sangat dipengaruhi kebutuhan yang didapat oleh sipembeli terjangkau, hal ini juga sangat berdampak pada kebijakan pemerintah daerah sendiri, sebab ada issu yang beredar jika kelak Pusat Pemerintahan Pidie Jaya “eksodus” ke markasnya di kawasan Cot Trieng, lantas bagaimana fenomena dan laju pertumbuhan ekonomi di kota Meureudu itu sendiri, pertanyaan itu tanpa ditanya mungkin bagi seorang Bupati Gade Salam memberikan gambaran, bahwa pertumbuhan kota Meureudu tetap menjadi prioritas, malah beberapa waktu lalu Bupati Gade Salam berkomitmen agar seluruh SKPK jajaran “Kabinet Gade Salam” tetap bermarkas di kota Meureudu, tujuannya agar daya beli semisal, satu telor atau segelas kopi dimana uangnya berputar di Pidie Jaya.

Artinya perputaran uang tidak keluar ke daerah lain, opini Bupati Gade Salam tersebut sah-sah saja, namun bagaimana jika ditinjau dari sudut pembangunan ekonomi, serta kepentingan publik, semisal SKPK tadi, sebab selama ini sejumlah SKPK dan pejabat Pidie Jaya berdomisili di luar Pidie Jaya, terbanyak dari Sigli Kabupaten Pidie. Jika pendapat di atas sangat brilian lantas bagaimana tanggapan dan kebijakan lanjut dari komitmen pemerintah itu tadi, namun sejauhmana pula  warning itu diaplikasikan oleh sang pejabat.

Pun demikian  trik Gade Salam itu patut dianjung jempol barangkali target sudah ada, bupati selain cerdas tergolong pemberani ini menjadikan lawan politiknya berpikir dua kali untuk memprotes semisal” kebijakan”, namun Gade Salam bukan figur kepemimpinan yang kaku, namun saran infut dari seluruh elemen masyarakat ditampung dan dijadikan konsumsi untuk dibahas dan kemudian  tentunya setiap pemerintah memiliki program dan target yang dicapai.

Kota Meureudu yang terbilang kota Tua di Aceh dengan sejarahnya yang sangat menakjubkan, perlunya penataan lebih dini, terarah dan terukur, sehingga dampak global dan pengaruh budaya apapun yang tidak diharapkan masyarakat nota bene masih dibawah garis kemiskinan itu, sangat layak untuk menjadi perhatian sepenuhnya, terutama Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat dengan selalu menjadikan Meureudu Pidie Jaya yang baru usia muda ini untuk diperhatikan dan didukung, sehingga keterbatasan sarana dan prasarana teratasi dan tentu disesuaikan dengan ketentuan dan mekanisme.

Pembangunan jalan layang terletak di Kawasan Cot Tring,  merupakan jalan akses menuju Pusat Pemerintahan, paruh pelaksanaannya sempat mendapat kecaman dari unsur politisi setempat, Wakil Ketua DPRK Setempat, Ramli, SH saat mendapat  info ini, menapik keras itu tidak mungkin, ia heran dengan sikap oknum dewan seperti itu, sebab yang kita bangun untuk kemaslahatan ummat, ujarnya. Padahal menurut Kadis Pekerjaan Umum,(PU) Ir.Hanif Ibrahim ME ,proses pembangunan jalan layang tersebut, sudah sesuai mekanisme termasuk proses tender, sebab proyek tergolong multiyer yang dikerjakan sejak 2010 dan sesuai kontrak kerja bakal  siap pada  2012.Proyek Jalan Layang itu dilaksanakan oleh rekanan yang memiliki kontribusi dan pengalaman setingkat Nasional, jikapun dilaksanakan kontraktor lokal mungkin domisilinya di Aceh, sedangkan pengalamannya tentu sudah mapan membidangi konstruksi pembangunan semisal jalan layang tersebut .

Investigasi dan liputan  media ini, kedalam elemen masyarakat luas dalam delapan kecamatan yang mendiami 222 Gampong itu, mengaburkan pendapat-pendapat kontra, pasalnya nyaris 97 persen rakyat Pidie Jaya menyukai pembangunan Pidie Jaya secara Komprehensif. (Hasballah Basyah)  

Share this article :
 
Support : Redaksi | Iklan | Copyright © 2011. Aceh News - All Rights Reserved
Modify by Arifa