BANDA ACEH, Aceh News - Sebagai lembaga riset independen yang didirikan dengan
semangat untuk meningkatkan kontribusi kalangan intelektual dalam usaha
meningkatkan pembangunan dan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat Aceh, Aceh
Institute (AI) di harapkan dapat menjadi mitra kerja Pemerintah Kota Banda Aceh
dalam proses perencanaan pembangunan.
Demikiaan harapan Wakil Walikota Banda Aceh saat meresmikan
kantor Aceh Institute, Rabu pekan lalu, di Jalan
Lingkar kampus Gampong Limpok Aceh Besar, tepatnya di belakang Fakultas
Kedokteran Universitas syiah Kuala.
Pada Acara yang juga di hadiri oleh Rektor IAIN Prof Dr
Farid wajidi MA, para anggota Dewan Dakwah Kota Banda Aceh, para Akedemisi IAIN
dan Unsyiah dan Keuchik gampong Limpok, lebih lanjut Illiza menyampaikan rasa
terimakasih dan apresiasi tinggi kepada Aceh Institute yang selama ini telah
banyak membantu Pemerintah kota Banda Aceh, terutama pada project musrenbang.
Pada kesempatan tersebut, Illiza berharap kepada Lembaga
Riset, yang salah satu misinya meningkatan
peran akademisi dalam penguatan institusi pemerintah dengan cara mendorong
penyusunan kebijakan berbasis riset, dan konsultansi intelektual ini
untuk dapat mendiskusikan masalah perluasan Kota Banda Aceh yang dirasakan
sangat kecil wilayahnya untuk sebuah ibukota Provinsi. “Untuk ukuran Ibukota Provinsi, saya rasa sangat kecil
lokasi Banda Aceh ini, tolonglah teman-teman di Aceh Institute mendiskusikan
hal ini sehingga bisa mencari solusinya” pinta Illiza.
Sementara itu, DR Nazamuddin MA selaku Pembina Aceh
Institue mengatakan Lembaga Riset Aceh Institute ini merupakan lembaga riset
yang telah mendunia. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh AI adalah Penelitian, Survey, Assesment, Penguatan
Kebijakan Pemerintah Berbasis Riset, Penerbitan dan Diseminasi Pemikiran,
Diskusi Rutin, Kajian, Seminar dan Konfrensi, Penyediaan Data dan
Kepustakaan serta Penyediaan Wadah dan Peningkatan Kapasitas Intelektual.
Dikatkannya lagi, Aceh Institue juga
mempunyai cafee yang dinamai Lingka Kupi dan juga menyediakan perpustakaan. “Dengan adanya perpustakaan dan cafee,
pengunjung bisa menikmati kopi sambil membaca dan menulis” ujar Nazamuddin
yang juga akademisi Fakultas Ekonomi Unsyiah ini. (MA)



