Headlines News :
Home » , , » Sejarah Mengakar di Kabupaten Pidie Jaya

Sejarah Mengakar di Kabupaten Pidie Jaya

Written By ichsan on Senin, 06 Februari 2012 | 00.53


Sejarah menggoreskan Negeri Meureudu sebagai Ibu kota Kerajaan Aceh, namun Konspirasi politik kerajaan menggagalkannya, sampai kerajaan Aceh runtuh.Meureudu masih sebuah negeri bebas, negeri Meureudu sudah terbentukdan diakui sejak zaman Kerajaan Aceh, saat Sultan Iskandar Muda berkuasa(1607-1636 M). Meureudu semakin diistimewakan menjadi daerah bebas dari aturan kerajaan , hanya satu kewajiban mereudu saat itu menyediakan persediaan logistik beras untuk kebutuhan kerajaan Aceh.

Dalam perjalanan tugas Iskandarmuda ke daerah semenanjung malaka (kini Malaisia) tahun 1613 M, singgah di negeri Meureudu, menjumpai Tgk Muhammad Jailuddin, yang terkenal dengan Tgk Ja Pakeh.dalam percaturan politik kerajaan Aceh negeri Meureudu juga memegang peranan penting.

Hal itu sebagaimana tersebut dalam Qanun Al-Asyi atau adat Meukuta Alam yang merupakan Undang-undangnya kerajaan Aceh, saat Aceh dikuasai Belanda, dan Mesjid Indrapuri direbut, dokumen undang-undang kerajaan itu jatuh ketangan Belanda.Oleh K F Van Hangen, dokumen itu kemudian diterbitkan dalam salah satu majalah yang terbit di Negeri Belanda dalam pasal 12 Qanun Al-Asyi disebutkan, apabila uleebalang dalam negeri tidak menuruti hukum, maka sultan memanggilnya, Tgk Chik Muda Pahlawan Negeri Meureudu, menyuruh pukul uleebalang diberhentikan atau diusir, segala pohon tanamannya dan harta serta rumahnya dirampas.Kutipan Undang-undang kerajaan Aceh itu, mensahihkan tentang keberadaan negeri Meureudu sebagai daerah kepercayan sultan untuk melaksanakan segala perintah dan titahnya dalam segala aspek kehidupan politik ekonomi,sosial, budaya, pertahanan keamanan kerajaan aceh Darussalam.

Negeri Meureudu yang kini menjadi ibukota kabupaten Pidie jaya adalah negeri yang langsung berada dibawah kesultanan Aceh dengan status nenggro bibeueh(negeri bebas).dimana penduduk negeri Meureudu dibebaskan dari segala beban dan kewajiban terhadap kerajaan karena Negeri Meureudu merupakan lumbung beras utama kerajaan.Keistimewaan negeri Meureudu terus berlangsung samapi 1640, Iskandar Tsani mengangkat Tgk Chik Meureudu sebagai penguasa definitif yang ditunjuk oleh kerajaan.Ia merupakan putra sulung dari Meurah Ali Husen, yang bernama Meurah Johan Mahmud, yang digelar pahlawan Raja Negeri Meureudu.Setelah melewati zaman penjajahan Raja Negeri Meureudu berubah menjadi pusat kewedanaan sekaligus pusat kecamatan.Selama Meureudu berstatus sebagai kewedanaan, telah diperintah oleh tujuh orang wedana.Kini daerah kewedanaan Meureudu menjelma menjadi Kabupaten Pidie Jaya, dipimpin oleh pasangan serasi, Drs HM Gade Salam dan Tgk.M.Yusuf Ibrahim.

Pemekaran dari kabupaten Induk Pidie, Pidie Jaya tahun 2007  resmi” bercerai” dengan Pidie, kendati baru seumur jagung, Pidie Jaya melesat cepat dalam program pembangunan, terutama dalam membangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Pidie Jaya dan membangun Jalan Layang ke pusat pemerintahan yang  terletak di Cot Trieng Meureudu.

Meureudu menyimpan sejumlah  situs sejarah seperti:
1.Mesjid Beracan, di kecamatan Meureudu disisi badan jalan banda Aceh-Medan, Mesjid tersebut dibangun oleh Tgk Salim berasal dari Madinah pada tahun 1622 Masehi.

2.Kuburan Tgk Jafakeh nama asli Tgk Jamaluddin karena berasal dari pakeh dilakapTgk Jafakeh artinya Tgk  Jamaluddin Al-Qusyasyi juga berasal dari madinah beliau adalah seorang ulama besar yang datang dari Madinah, dan menetap di daerah  Glee Raweu dengan para pengikutnya untuk menyusun strategi penyebarluasan Agama Islam.

3.Guci Keuramat, sebuah guci siam yang sebagian badannya tertanam didalam tanah sehingga yang nampak pada permukaan ialah bagian leher dan mulut guci.Guci masih “dikeuramatkan” sehingga diberi pembatas dari kain dan kain penutup seluruh bagian badan guci.Adapun ukuran Guci diameter mulut 35 cm.Diameter badan 80 cm, kedalaman/tinggi 92 cm.

4.Kuburan Malem Dagang terletak di Gampong Glee Raweu Meureudu.

5 Kuburan Tgk Abdullah Syafei’i, terletak diatas bebukitan Pucok Alue Ngeue Cubo, jasad 
beliau dan istrinya, Nyak Puteh dikebumikan didesa Blang Sukon, Cubo bandar Baru Pidie Jaya.

6.Mimbar Kono, terletak di desa  Lueng Bimba Dayah Kruet Meurah Dua.

7 Mesjid Madinah terdapat di Gampong Dayah Kruet Kuta Baro Mereudu.

8.Monumen Meurah Doe, terletak di gampong Meurah Doe,

9.Kuta batee merupakan benteng pertahanan Iskandar muda, terletak di Desa Manyang jalan Blang Awe Meureudu.Kabupaten Pidie jaya sampai kini masih menyimpan berbagai bukti dan situs sejarah yang patut kita lestarikan.(Hasballah Basyah) 
Share this article :
 
Support : Redaksi | Iklan | Copyright © 2011. Aceh News - All Rights Reserved
Modify by Arifa