- Siswa/i SMP 3 Madat Terpaksa Bolos Sekolah
ACEH TIMUR, Aceh News - Inilah balada pelajar sekolah desa
terpencil, arungi genangan air tiap tahun sepanjang musiman. SMP Negeri 3
Madat, Kecamatan Madat Aceh Timur sasaran banjir yang tak terindahkan.
Genangan air bagaikan lautan
luas di halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Madat, yang terletak di
pedalaman. Di desa Pante Bayam kecamatan Madat Aceh Timur menjadi wadah
pendidikan adu untung mencapai kelas antara genangan air berhari-hari dan
tuntutan mata pelajaran bagi pelajar.
Desa Pante Bayam memiliki jarak dengan daerah keramaian kecamatan setempat
mencapai sekitar enam kilometer lebih yang persis letaknya daerah petani
tambak. Disekitar desa itu juga terdapat beberapa sekolah dasar lainnya, namun
bernasib yang sama.
Amatan Aceh News pada Sabtu (28/01/2012), di depan halaman sekolah yang memikili luas
sekitar 10.300 meter persegi itu dipenuhi air hingga 80 cm, lebih kurangnya
mencapai lutut orang dewasa. Satu unit lapangan bola voly, delapan unit RKB
lima unit antaranya sedangdalam pemakaian belajar, tiga lainnya masih kosong,
prihalnya siswa masih minim demikian juga tiga unit Mandi Cuci Kakus (MCK) ikut
terendam dan didalam ruang air mencapai 50 centimeter.
“air hujan ini sudah mengendap sejak bulan Desember 2011 yang lalu, hingga saat
ini jangankan mengering kusut saja tidak” kata Kepala Sekolah SMP Negeri 3,
Hasan Basri SPd yang sudah mengabdi disekolah tersebut semenjak satu tahun
terakhir.
Berminggu air hujan meladangi halaman sekolah, air yang mengendap tidak ada
selokan yang dibuat, dengan terpaksa dalam masa waktu berminggu-minggu pelajar
tersebut arus mengarungi air. Namun Hasan Basri hanya bisa pasrah pada keadaan
dengan mengharapkan keajaiban, “kapan anak-anak terbebas dari banjir”.
Sekolah yang berdiri sejak tahun 2009 mulai aktifnya, sampai saat ini sudah
mempunyai murid sebanyak 108 siswa dengan jumlah lokal sebanyak delapan lokal
dibawah 15 tenaga didik. Mengenai ruang belajar hingga saat ini sudah menuai
kapasitas, bahkan dari segi mobiler dan lainnya sudah lengkap, namun sungguh
disayangkan tempat pendidikan anak daerah tersebut tidak terlepas dari ancaman
banjir yang terisolir.
“permasahan kita saat ini hanyalah banjir yang sejak memasuki bulan November
hingga Februari yang menjadi langganan banjir, sedangkan lokal dan mobiler
sudah lengkap” tambah Hasan yang didampingi kepala desa Pante Bayam Muslem saat
menjawab media ini pekan lalu. ia juga mengatakan sudah mengupayakan membuat
permohonan kepada pemerintah kabupaten Aceh Timur, tapi ironisnya usulan kasek
itu hingga saat ini belum terwujudkan, “kata bupati, ketika kami mengajukan
permohonan, bupati menjawab akan segera memperioritaskan” imbuhnya lagi.
Dikarenakan Pemkab dianggap tidak merespon pihak sekolah dan tokoh masyarakat
desa setempat mengusulkan ke pemerintahan provinsi, tapi lagi-lagi tidak ada
tanggapan melainkan janji saja.
Kerjasama pemrintahan desa dengan wadah pendidikan ditempat itu merupakan
keterpurukan pembangunan daerah yang telah mengorbankan benih pemimpin masa
depan daerah tersebut, dari amatan Aceh News sendiri mendapatkan, puluhan
siswa/i SMPN 3 Madat itu sedang mengangkat celana dan yang perempuan sedang
menyelamatkan rok mereka dari endapan air yang menjadi titik alur dari beberapa
payau di sekitaran halaman, pelajar tersebut sedang berbondong-bondong pulang
sekolah.
Kepala desa Pante bayam Muslem, membenarkan kondisi daerahnya rawan banjir,
tidak hanya sekolah saja, namun pemukiman penduduk juga terncam banjir. Menurut
keterangannya salah satu penyebab banjir yang tidak ada pembuangan tersebut
dikarenakan masih dalam kebijakan desa untuk mengusulkan pembangunan drainase
jalan, sempat gagal sebelumnya karena menganggu lahan warga, tempat tersebut
masih kepemilikan masyarakat.
Bendungan yang mengililingi halaman sekolah tersebut diharapakan kepada pemkab
aceh timur agar segera mungkin meresponnya, “bendungan itu sangat perlu dibenahi,
air mengendap itu salah satu penyebabnya adalah bendungan, dengan sedikit
perubahan akan berdampak lebih baik untuk masyarakat, air yang menggenangi
segera teratasi demikian juga halnya dengan petani bisa membantu ladang sawah
mereka guna mendapatkan jatah air yang cukup” katanya.
Harapan masyarakat setempat, pemkab aceh timur lebih memperioritaskan
infrastruktur masyarakat agar daerah tersebut bisa bebas dari banjir tiap musim
penghujan tiba. (Jamal)


