Pada zaman tempo dulu, mungkin masih
ada di zaman saat sekarang, ada beberapa macam istilah dalam perkawinan adat Gayo,
yaitu untuk menjalankan sunah Rasul, dalam rangka mempersatukan umat kaum Adam
dengan Kaum Hawa, khususnya di wilayah dataran tinggi Gayo, baik diperdalaman
pelosok sana maupun di pedesaannya. Mislanya : 1. Ara Jeuelen, artinya : pihak
mempelai pria membeli calon pengantin wanitanya. Setelah akad nikah mempelai wanita
tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya tanpa seizin suami. Dan jikala habis
masa perjodohan, atau bercerai mempelai wanita pulang tidak membawa apa-apa. 2,
Ehe senang, artinya : Mempelai tidak
diperjualbelikan bagaikan benda, hewan, dan pakaian, dan hidup dimana senang.
Baik di pihak keluarga pria maupun di pihak wanita sendiri,sebelum hidup
mandiri. Apabila berpisah atau bercerai, harta dibagi dua. 3, Ara I Angkap,
Artinya : calon pengantin wanita, meminang calonpengantin pria,dengan tidak
meminta upah sepeser pun. Ibaratkan sumur mencari timba, akan tetapi dengan
cacatan, pengantin pria harus tinggal di
pihak keluarga wanita, untuk menjadi tulang punggung kehidupan, yang
difasilitasi serta dibekali, akan tetapi apabila di kemudian hari berpisah juga,
jelas mempelai laki-laki pulang tidak membawa apa-apa alias kolor doank. Ibarat
kata pepatah bahasa gayo Koro Ngoro Kucing Man Kero artinya
: Kerbau yang membajak sawah kucing yang makan nasinya,menantu yang banting
tulang istri dan mertua pula yang menikmatinya.
Walaupun demikian,masih
ada juga kata pepatah bahasa gayo yaitu : Koro Jamu Ken Ulu Tawar dalam artian
: Koro itu adalah kerbau, Jamu adalah tamu, Ken Ulu Tawar maksudnya untuk
kepala penawar ( Kerbau Tamu untuk Kepala Penawar ) maksudnya berkuasa dan
menguasai. Dalam arti kata, orang yang datang atau pendatang yang berkuasa atau
yang memimpin dan menguasai.
Arti sesunguhnya dari
kata bahasa Koro Jamu Ken Ulu Tawar ialah
orang pendatang yang berkuasa dari hasil sepak terjangnya.
Memang tidak bisa kita
pungkiri, banyak lagi koro-koro jamu ken ulu tawar (pendatang yang berkuasa)
dan menguasai,misalnya saja di roda pemerintahan daerah, seperti Camat dan
Esselon II dan III, pedagang, serta dalam organisasi profesi, apa kita tidak
malu, atau tidak mampu………………? Apa kita mesti berkiblat kepada orang luar atau
pendatang…………..? Sementara kita-kita Pribumi masih banyak yang cerdas, mampu
dan bisa, kenapa mesti Koro Jamu Ken Ulu Tawar, atau berkiblat kepada pendatang
atau orang luar. Jujur alangkah kerdilnya kita, walaupun menganggap diri kita
itu sudah hebat, akan tetapi nol besar.

