Headlines News :
Home » » Menumbuhkan Semangat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda

Menumbuhkan Semangat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda

Written By Redaksi on Rabu, 21 Desember 2011 | 15.14


Oleh: Mahdi, S.Pd
Menurut pasal 1 Undang-undang nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, yang disebut dengan pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Dengan demikian, para lulusan SMA/ sederajat dan para lulusan sarjana dari berbagai disiplin dapat dikategorikan dalam kelompok yang oleh undang-undang ini disebut sebagai pemuda.
Persoalan krusial yang kini dihadapi oleh kalangan pemuda di Indonesia pada umumnya, dan di Aceh khususnya, adalah tidak berimbangnya kesempatan kerja dengan jumlah angkatan kerja yang ada. Istilahnya sempitnya lapangan kerja, sehingga diperlukan solusi yang tepat dengan langkah-langkah nyata untuk mengatasi persoalan ini.
Ketua DPRRI, Marzuki Ali, beberapa waktu yang lalu pernah melontarkan pernyataannya, bahwa saat ini perlu dipikirkan bagaimana menumbuhkan semangat kewirausahaan atau entrepreneurship di kalangan pemuda. Fakta yang ada saat ini sangat memprihatinkan. Angkatan kerja baru cenderung hanya membangun mimpi menjadi pekerja atau karyawan.
Menurut Marzuki, Peluang kerja yang dapat disediakan pemerintah saat ini terbatas. Walaupun target pertumbuhan ekonomi merangkak naik  namun belum memadai. Marzuki menyebut setiap 1 persen pertumbuhan berarti peluang kerja baru terbuka bagi 400 ribu orang. Apabila pertumbuhan 6 persen, peluang kerja berkisar 2,4 juta, masih jauh dari jumlah angkatan kerja baru. Pilihan terbaik adalah bagaimana mendorong pemuda memiliki keberanian menjadi pengusaha yang malah mampu membuka kesempatan kerja.
Memang tidak gampang mengubah pola pikir di masyarakat kita dimana sebagian masyarakat kita terlebih di gampong-gampong beranggapan bahwa seorang pemuda apalagi lulusan sarjana belum dikatakan berhasil jika belum menjadi karyawan atau pegawai negeri. Namun melihat kondisi yang ada saat ini, maka sejatinya kita harus melakukan itu. Masyarakat dan pemuda perlu segera disadarkan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidup tidak hanya dapat diperoleh dengan status sebagai karyawan atau pegawai negeri. Banyak orang di dunia ini, termasuk Indonesia justru menjadi orang-orang kaya dengan berwirausaha.    
Purdi E Chandra misalnya, yang secara “tak resmi” sudah mulai berbisnis sejak masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.
Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982 ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekat meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.
Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama akhirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.
Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama saat diwawancarai Majalah Berwirausaha.
Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.
Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha. Purdi memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekat. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.
Grup Primagama pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawali dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini.
Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.
Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik dari pada repot-repot menyeduhnya di rumah.
Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar berangan-angan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.
Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.
Dari Cerita sukses Purdi E Chandra, bisa di kita petik sebuah pembelajaran bahwa, orang sukses memulai bisnis dari potensi yang ada di sekitar mereka, bahkan mereka cendrung memulai bisnis tanpa modal. (*)

Penulis adalah Staf Bidang Pemuda dan Olahraga pada Disdikpora Kota Banda Aceh/ Ketua Generasi Muda Kosgoro Kota Banda Aceh
Share this article :
 
Support : Redaksi | Iklan | Copyright © 2011. Aceh News - All Rights Reserved
Modify by Arifa